Perwakilan Mahasiswa Statistika Mengikuti Seminar Laksa Thung Song, Thailand

7 orang Perwakilan Mahasiswa Statistika dan seorang dosen Statistika FMIPA Unsyiah mengikuti acara “Seminar dan Festival Laksa” dari 23-26 Maret 2016 di Thung Song, sebuah kota di Provinsi Nakhon Sri Thammarat, Thailand. Tujuan dari acara tahunan ini adalah sebagai wadah untuk membangun kebersamaan antarbangsa sekawasan ASEAN melalui laksa (masakan) dan budaya.

Thung song adalah kota dikenal sebagai “Kota Tanpa Sampah”. Dari jalan utama hingga jalan kecil takkan ada ditemui sampah. Walikota Thung song serta jajarannya sangat peduli tentang pengelolaan sampah. Tak hanya itu, masyakat Thung song sendiri telah menerapkan konsep zero waste, kota tanpa sampah. Maka, tak ada tong sampah di kota mereka. Setiap sampah akan menjadi tanggung jawab masing-masing rumah, sekolah, kantor, keluarga, dan individu.

Penjelasan konsep ini, disuguhkan pada saat kegiatan seminar di kantor walikota Thung Song. Dimana Sang walikota sendiri lah yang menjadi pematerinya. Konsep “kota tanpa sampah” berawal dari keprihatinan sang walikota akan volume sampah yang terus bertambah. Banjir yang sering terjadi membuat walikota mengambil langkah berani dengan menerapkan konsep zero waste. Sedikit informasi, di Thailand tak ada batasan periode kepemimpinan. Walikota yang ada difoto bersama kami telah menjabat 8 tahun. Beliau merupakan sosok yang sederhana, pekerja keras dan membaur dengan rakyatnya. Tak heran jika beliau sangat dicintai oleh rakyatnya.

Saat belajar dan praktik di lapangan, Mahasiswa Statistika mendapatkan pembelajaran tentang metode canggih yang digunakan pemko Thung song dalam pengelolaan sampah. Gunungan sampah yang telah dikumpulkan dari setiap sudut kota, dipastikan akan dikelola setiap harinya. Warga hanya perlu membayar 30 baht, maka persoalan sampah mereka selesai. Butuh banyak perjuangan yang lama serta berbagai tantangan hingga Thung song bisa dilirik mata dunia seperti sekarang ini.

Pengolahan sampah dimulai dengan pemisahan menjadi dua bagian utama. Bagian pertama sampah organik berupa sisa makanan. Bagian kedua, aneka pembungkus makanan, botol minuman, dan kemasan makanan cepat saji. Kemudian diolah disebuah tempat khusus dengan alat canggih. Sebagian barang barang bekas juga di daur ulang sehingga bermamfaat untuk Thung Song sendiri. Di akhir kegiatan Mahasiswa Statistika Unsyiah juga ikut menanam pohon dengan orang-orang hebat di Thung Song.

Kegiatan puncak disana adalah mengikuti Festival Laksa di tengah kota Thung Song pada hari Jumat, 24 Maret 2017. Beberapa Negera ASEAN menghadiri festival masak akbar itu. Stand-stand tiap Negara berdiri kokoh mengelilingi lapangan kota. Sebuah wajan besar bertengger tepat di tengah lapangan untuk memasak kuah khas Thailand untuk dapat dinikmati semua orang. Berbagai macam laksa berbagai negara bisa ditemui. Mahasiswa dan dosen statistika sendiri memasak lima buah kuali Mie Aceh. Ini merupakan suatu kebanggan tersendiri untuk Indonesia khususnya Banda Aceh, dimana makanannya mulai dikenalkan pada dunia. Mie Aceh disukai kalangan muda hingga tua. Antrian panjang dari pengunjung senantiasa menunggu di Stand Mahasiswa Unsyiah (Indonesia). Tak butuh waktu lama, makanan yang telah disajikan habis dalam sekejab. Mi aceh digadang-gadang menjadi salah satu laksa terpopuler saat festival. Kegiatan ini juga diliput media nasional Thailand. Melalui budaya, begini cara Unsyiah menebar kebahagian bagi masyarakat dunia.

[Winda Via Carlina, Kominfo]

Bagikan Berita ini

Berita Lainnya